November Teduh

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Muda Wijaya

di November paling indah
ada parasmu di pantul cahaya teduh
ke gununggunung sumringah
menghijau seluruh lembah
di mata menguning sawahsawah
berbulirbulir padi tergelincir
menampung segala diucapkan bibir

angin udara dingin menahan
dari seluruh getar tubuh menahun

bintangbintang liar menuju tamantaman
wangi waktu tersungkur di dataran
burungburung trans
membuat sarangsarang musim kawin
; ada basah
ada gairah
bersedekah

Doa Masa Depan

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Muda Wijaya

hari demi hari terus saja merambat
dan usia lanjut demikian tarasa singkat
yang tua senang memandang
bunga bunga tumbuh berkembang
dan suarasuara angin menyelinap
diantara letih sepasang mata menyirap

tak ada potret terpajang
dalam kalender hanya tertulis kenangan
harihari yang terbentang
catatan jalanjalan tempat bagi sandaran

hari ini ada kau temukan lagi
gerbang gerbang pintu bercahaya lagi
rumah rumah tersusun rapi
wujud untuk kekasih sejati

gambarlah peta di meja kerja
dan pandang cuaca dari jendela
matikan asap dari mulut yang menyala
atur dada senantiasa sedemikian rupa

ayo melangkah dan keluar rumah
memandang bulan berebah rekah
rantingranting bintang yang melintang
untuk kehidupan yang panjang

mari buka dada
benamkan bintangbintang dalam doa
serupa perahuperahu pulang habis menjala

Unggunan Kata Dinihari

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Muda Wijaya

setelah aku padamkan lampu lampu
pada kebekuan mengganjar
menggugurkan seluruh senyum
dalam tafakur

segenap gema zikir dinihari
yang menderu dari gerbong
untuk perjalanan panjangku

apa bahasa fitrah embun
membangun percakapan dinihari
di selembar kertas
di sela jarijari
bisa tinta kehilangan racunnya
dan kata kata yang tertinggal maknanya
-yang hilang warna

bisikkan aku satu makna
untuk kata yang pernah menyala
mengabarkan rasa
begitu memahatkan wajah peristiwa
cermin bagi derita
menyusun pengurbanan tanpa jarak

aku tahu hanya satu
tuhan tak berdiri di satu pintu
dan jalan rumah
katakata yang ku bangun
sampai dinihari;
tak ada lagi lampulampu padam
pada halamanhalaman kertasku
tatap tumpukan katakata
menyalakan unggunan.

Kabut Subuh Buta

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Muda Wijaya

pada kabut udara subuh
masih saja kau sisakan keluh.

tsabit memanjar
sudah menunjuk arah jalan
agar diri tak hilang layar.

ke ganggang
arus percakapan kau bekukan
dalam tajam gelombang embun mendera
dari langit yang tak habis menduga
untuk jalanjalan terusan menganga.

dengar suara sekawan anjing kudisan
tubuhnya menguning hilang buruan
terseok di lampu remang sebuah taman.

cahaya apa menyelimuti kesepiannya?

ahh
kenapa pada suaramu itu
serupa sedu sedang menggebu
jerumuskan batubatu ke dadamu
yang bilur biru bukan karena rindu.

pandang lagi setapaktapak jalan
yang diunggunkan pengembaraan
memasuki makna mata ngungun
bergolak dalam khusuk nyanyian.

dan tarian hijau
tersuruk diucap lagumu
nadanada gemetar haru begitu
subuh pasang ingin menghilang
dalam albumalbum lama
frame yang digantungkan
dinding karang sebenarnya.

pada kabut udara subuh
masih saja kau sisakan keluh
dan suarasuara dari getar waktu
menenungku tak habishabis
pada suara lembut ruang berkabut
bersetubuh pada jejakjejak kamboja.

ahh
tubuh siapa tersentak menyusup
bentangkan garis bersayap
besandar pada tiangtiang terlanggar
untuk seluruh gelar.

pada kabut udara subuh
buta
selebihlebih anjing kudisan menunggumu
lupakan tiangtiang runtuh
dari sunyi gesekan nyala api
melanggar jalanjalan matahari.

Dari Tahun ke Tahun

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

bunga bunga yang lahir
kupu kupu yang hadir
air mata pun mengalir
bulan menerima taqdir
matahari terus menyindir
dan air tetap mengkukuh ke hilir.

cuaca mengajak berkaca
dan angin buta mendera
menggigil pada cemara
hingga lengkung di udara
menampar isi alam semesta
tanda bagi manusia melepas lagi doa

pada bunga bunga yang lahir
pada kupu kupu yang selalu hadir
pada air mata pun yang terus mengalir
dan pada bulan yang tak jemu menerima takdir
serta pada matahari yang lurus tak haus menyindir
maka kuatkan diri ini serupa air yang tetap kukuh ke hilir
sampai temukan kuala sandaran tempat memejam tenang di akhir.

Fragmen di Hari Minggu

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

di hari pertama bertemu kenapa harus memejamkan mata.

aku sudah jauh meraba gerimis jatuh di kulitmu yang tipis
dan dingin telah mengurung membuat detak jantung murung.

kekasihku. jangan menulis kekosongan dengan suara yang menggantung
pada sekawan senja untuk usia kita yang masih menyalakan warna bunga
untuk ruang cinta yang kau temukan renta dan runtuh di kabut menganga.

di jalanjalan tak sempurna udara lebih sempurna bersekutu mengirim racunnya
sesakkan dada butakan mata membuat seluruh rencana terlunta untuk jalan cita
halaman masa depan di mana banyak pohonpohon bermekaran dipenuhi bunga
buah dari persilangan rasa cinta pada olahan tanah gembur subur yang makmur.

jangan memutus pandang untuk rencana yang matang di halaman tempat kita berladang
buat pijakan untuk kaki tangan pikiran dan perasaan dalam melepaskan seluruh belengu
dan pada hamparan yang termangu jejakkan suarasuaramu yang meramu sejatinya rindu
bakal pokok cahaya untuk bekal pada semesta yang membagi seluruh berkah rasa kasih
lalu diami hening yang menguning di hati membiarkan manis jarijari matahari melukisi.

Desember 2007

Bagi Percakapan Hati

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Muda Wijaya


percakapanpun sanggup menahan
dingin perjalanan
dan ruang sederhana yang kita bawa
pekarangan bagi mata.

aku yang masuk dalam masa lalumu
bukanlah cahaya
bukan pula
pohon rindang kau sangka.

kita adam dan hawa dibuang waktu
dipertemukan di hari sabtu
pada hamparan batu
mebawa rabu yang ngilu
melepas tafsir cahaya air di taman
bersetubuh rindu yang dikeramatkan.

ini percakapan
bukan kebosanan mencintai
tapi
sandaran aku tawarkan
sambil membaca zaman

fahami
ruang ini mudah dibusukkan harihari
sebab dindingdindingnya
tak sempurna serap cahaya.

benar
percakapanpun sanggup menahan
dingin perjalanan
dan ruang sederhana yang kita bawa
pekarangan bagi mata.

Desember Kepompong Untuk Ibu

•Januari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

di selatan cahaya bulan tertahan
dan tubuh kecil di pasir kakimu kesepian
langkah terselip hawa dingin menggumam
letih membuka gelombang pintu
- temukan gelap ruangan.

Desember saat harihari hujan
kau luka di balik tirai langit ibu
hujan membawa pesan bersebrangan
rebah dan basah ke ruang tamuku

matamu terpaku ke lampu lampu mengadu
bercampur debubiru yang sesak di dadamu
isak suaramu dipenuhi warna ungu kelabu
serupa kepompong yang menjelma kekupu
ke pohonpohon teduh bukan bermalih rupa
berkata bukan bermetamorfosa;

- tak ada ibu yang aku rindu.

mataku termangu bukan tertipu
di hamparan gerimis aku begitu dekat
mendengar lugu Iwan fals jeritkan lagu
untuk ibu
yang terus menyusur menyusun serat surat

ibu dari selatan cahaya bulan kau tahan
jangan desember itu lagi kau penuhi hujan
tubuh kecil anakmu kakinya kesepian
jangan lagi tutup pintu jalan ke luar
sebab di ruang suarasuara riuh memendar

ibu ke selatan cahaya bulan tertahan
tubuh kecil-mu mengirim kepompong
berumah di dedaunan
jangan kirim lagi tulah si malin kundang
sebab aku masih rindu pulang berpelukan
saling berbagi pandang
sujud salam dalam ungkapan.

Hello world!

•Januari 2, 2009 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!