Kabut Subuh Buta
Muda Wijaya
pada kabut udara subuh
masih saja kau sisakan keluh.
tsabit memanjar
sudah menunjuk arah jalan
agar diri tak hilang layar.
ke ganggang
arus percakapan kau bekukan
dalam tajam gelombang embun mendera
dari langit yang tak habis menduga
untuk jalanjalan terusan menganga.
dengar suara sekawan anjing kudisan
tubuhnya menguning hilang buruan
terseok di lampu remang sebuah taman.
cahaya apa menyelimuti kesepiannya?
ahh
kenapa pada suaramu itu
serupa sedu sedang menggebu
jerumuskan batubatu ke dadamu
yang bilur biru bukan karena rindu.
pandang lagi setapaktapak jalan
yang diunggunkan pengembaraan
memasuki makna mata ngungun
bergolak dalam khusuk nyanyian.
dan tarian hijau
tersuruk diucap lagumu
nadanada gemetar haru begitu
subuh pasang ingin menghilang
dalam albumalbum lama
frame yang digantungkan
dinding karang sebenarnya.
pada kabut udara subuh
masih saja kau sisakan keluh
dan suarasuara dari getar waktu
menenungku tak habishabis
pada suara lembut ruang berkabut
bersetubuh pada jejakjejak kamboja.
ahh
tubuh siapa tersentak menyusup
bentangkan garis bersayap
besandar pada tiangtiang terlanggar
untuk seluruh gelar.
pada kabut udara subuh
buta
selebihlebih anjing kudisan menunggumu
lupakan tiangtiang runtuh
dari sunyi gesekan nyala api
melanggar jalanjalan matahari.

Tinggalkan Balasan